Februari 10, 2010
· Disimpan dalam Hadits, Tausiyah Pengasuh · Tagged jamaah, keutamaan berjamaah, keutamaan shalat berjamaah, shalat berjamaah, Yasir Maqosid
Oleh: Yasir Maqosid, Lc
Islam mengajarkan pada umatnya untuk senantiasa melaksanakan shalat berjaamaah. Sebab, dengan berjamaah akan melahirkan banyak sekali hal-hal positif. Salah satunya adalah interaksi antara sesama kaum muslimin tanpa memandang status sosial. Dengan adanya interaksi seperti ini, banyak hal dapat dicapai, misalnya dapat bekerja sama dalam urusan dunia maupun akhirat, tercipta kepedulian antara satu sama lain, dan dapat tercipta masyarakat yang patuh terhadap ajaran-ajaran Islam.
Shalat berjamaah menurut mazhab Syafi’i hukumnya Fardlu Kifayah. Artinya apabila tidak ada seorang pun yang mendirikan jamaah dalam satu kampung, maka seluruh kampung mendapatakan dosa. Adapun keutamaan shalat berjama’ah antara lain:
1- Berjama’ah lebih utama dari pada shalat sendirian.
Rasulullah saw bersabda: “Shalat berjama’ah itu lebih utama dari pada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra) Baca entri selengkapnya »
Februari 10, 2010
· Disimpan dalam Opini, Tausiyah Pengasuh · Tagged hari vaelentine, hukum merayakan valentine, sejarah hari valentine, sejarah valentine
Oleh: Yasir Maqosid, Lc
Saat ini media-media informasi mulai marak membuat program guna menyambut Hari Valentine yang jatuh setiap tanggal 14 Februari. Bahkan beberapa stasiun televisi sudah menyiapkan acara khusus untuk menyemarakkan hari yang oleh sebagian orang disebut sebagai hari kasih sayang ini. Padahal, sebenarnya peringatan Hari Valentine tidak lain merupakan perbuatan menyimpang yang dampaknya membawa kepada perbuatan mesum yang dipoles dengan kata “kasih sayang”.
Adapun asal muasal hari Valentine memiliki beberapa versi. Dalam The World Book Encyclopedia (1998) dilukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day salah satunya adalah festival Romawi yang disebut Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan objek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut (whiplash) orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur. Baca entri selengkapnya »
Januari 15, 2010
· Disimpan dalam Mutiara Hikmah · Tagged Budak, dosa, Hikmah, Mutiara Hikmah, Nafsu, Raja
- Nafsu dapat mengubah raja menjadi budak, sedangkan kesabaran dapat mengubah budak menjadi raja.
- Barangsiapa yang meninggalkan perbuatan dosa maka hatinya menjadi lembut.
Barangsiapa yang meninggalkan barang haram dan hanya memakan yang halal, maka akal pikirannya menjadi jernih.
- Orang yang berilmu tidak akan merasa asing dimanapun dia berada, sedangkan orang yang tidak berilmu akan merasa asing dimanapun dia berada.
(Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad)
Januari 2, 2010
· Disimpan dalam Opini, Tempat Bersejarah · Tagged Bumi Terbaik, Hajar Aswad, Keutamaan Makkah, Kota Makkah, Makkah
Oleh: H. Yasir Maqosid, Lc
Kota Makkah yang merupakan kota paling dicintai Allah dan Rasul-Nya, memiliki keutamaan dan keistimewaan tersendiri. Di dalamnya juga terdapat tempat-tempat bersejarah yang dimuliakan Allah, semisal; Ka’bah, Masjidil Haram, Air Zam zam, Hajar Aswad, Multazam, dan lainnya. Selain itu, ada juga beberapa peninggalan yang menjadi saksi sejarah kejayaan Islam dan kaum muslimin. Dengan mengenal keistimewaan tempat-tempat tersebut, diharapkan dapat mempertebal keyakinan dan menambah keimanan kita. Berikut ini keutamaan Kota Makkah:
1- Sebagai Bumi Terbaik
Allah telah menetapkan bahwa Makkah adalah bumi terbaik dan tempat yang sangat dicintai Rasulullah. Namun karena tekanan kafir Quraisy—sebelum akhirnya Islam memperoleh kejayaan—terpaksa Rasulullah meninggalkan bumi yang dicintainya itu. Rasulullah saw ketika berdiri di Hazwarah bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya engkau (Mekkah) adalah sebaik-baik bumi Allah dan bumi yang paling dicintai Allah. Andaikata aku tidak diusir darimu, maka aku tidak akan pernah keluar meninggalkanmu.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
2- Allah Menjadikan Makkah Sebagai Tanah Haram (Kota Suci)
Maksud dari Tanah Haram adalah Allah telah melarang seseorang untuk mengusir hewan buruannya, mencabuti tumbuh-tumbuhannya dan mengambil barang temuannya. Pada saat penaklukan Kota Makkah Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya negeri ini telah Allah haramkan pada saat diciptakan langit dan bumi. Maka, dia haram dengan keharaman Allah hingga hari Kiamat. Tidak boleh dicabut durinya, tidak boleh diusir binatang buruannya, tidak boleh diambil barang temuannya kecuali dia bermaksud untuk mengumumkannya.” (HR. Ibnu Majah) Baca entri selengkapnya »
Januari 1, 2010
· Disimpan dalam Tausiyah Pengasuh
Kami atas nama Pondok Pesantren Syafi’i Akrom – Jenggot Pekalongan Jawa Tengah Mengucapkan:
SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1431 SEMOGA UMAT ISLAM DAPAT BANGKIT DAN BERJAYA DALAM SEGALA BIDANG.
Amin Ya Robbal Alamin
Desember 23, 2009
· Disimpan dalam Mutiara Kisah · Tagged Haji Mabrur, Menyantuni Anak Yatim, Mutiara Kisah

Pada suatu hari ketika Abdullah bin Mubarak menunaikan ibadah haji, dia tertidur di Masjidil Haram. Dia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit lalu yang satu berkata kepada yang lain, “Berapa banyak orang-orang yang berhaji pada tahun ini?” Jawab yang lain, “Enam ratus ribu.” Lalu ia bertanya lagi, “Berapa banyak yang diterima hajinya?” Jawab yang lain, “Tidak seorang pun yang diterima, hanya ada seorang tukang sepatu dari Damsyik bernama Muwaffaq, dia tidak dapat berhaji, tetapi diterima hajinya sehingga semua yang haji pada tahun itu diterima berkat hajinya Muwaffaq.”
Ketika Abdullah bin Mubarak mendengar percakapan itu, maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat ke Damsyik mencari orang yang bernama Muwaffaq, sehingga sampailah ia ke rumahnya. Ketika pintu rumah diketuk, keluarlah seorang lelaki. Abdullah segera bertanya nama laki-laki itu. Laki-laki itu menjawab, “Muwaffaq.” Lalu Abdullah bin Mubarak bertanya, “Kebaikan apakah yang telah engkau lakukan sehingga mencapai darjat yang sedemikian itu?” Muwaffaq menjawab, “Tadinya aku ingin berhaji tetapi tidak bisa karena keadaanku, tetapi mendadak aku mendapat uang tiga ratus diirham dari pekerjaanku menambal sepatu, lalu aku berniat haji pada tahun ini. Sementara itu isteriku sedang hamil. Suatu hari dia mencium bau makanan dari rumah tetanggaku dan menginginkan makanan itu. Aku lalu pergi ke rumah tetanggaku dan menyampaikan tujuanku yang sebenarnya kepada wanita tetanggaku itu. Baca entri selengkapnya »
Desember 23, 2009
· Disimpan dalam Akhlak, Opini · Tagged Hari Asyura, Keutamaan Puasa Asyura`, Menyantuni Anak Yatim, Muharram, Puasa Hari Asyura
Oleh: Abdullah Al-Azhary
Muharram termasuk salah satu Asyhurul Hurum (bulan-bulan yang dimuliakan Allah swt), yang mana di bulan tersebut disunahkan memperbanyak puasa. Rasulullah saw bersabda, “Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.” (HR Muslim)
Adapun tanggal sepuluh bulan Muharram biasa disebut dengan nama Asyura. Kata Asyura berasal dari kata ‘Asyarah yang berarti sepuluh. Menurut sejarah, bangsa Arab sebelum Islam telah biasa menghormati bulan Muharram, dan lebih khusus lagi tanggal yang kesepuluh.
Pada hari Asyura (tanggal 10 Muharram) terjadi peristiwa bersejarah sebagai berikut: Bebasnya Nabi Nuh dan ummatnya dari banjir besar; Nabi Ibrahim selamat dari apinya Namrudz; Kesembuhan Nabi Ya’kub dari kebutaan dan ia dibawa bertemu dengan Nabi Yusuf pada hari Asyura; Nabi Isa diangkat ke surga setelah usaha Roma untuk menangkap dan menyalibnya gagal; dan Nabi Musa selamat dari pasukan Fir’aun. Baca entri selengkapnya »
Desember 8, 2009
· Disimpan dalam Hadits, Sejarah Umum, Tempat Bersejarah · Tagged Kota Madinah, Kutamaan Madinah, Madinah

Oleh: Yasir Maqosid, Lc
Kota Madinah merupakan kota suci kedua setelah kota Mekkah. Karena itu, kota ini memiliki beberapa keutamaan sebagaimana kota Makkah. Di antara keutamaan kota Madinah yang penuh berkah ini adalah sebagai berikut:
1- Dijadikan Tanah Haram (Kota Suci)
Rasulullah saw menjadikan Madinah sebagai Kota Suci. Di kota inilah Islam tumbuh, berkembang, dan menyebar luas, sehingga semesta yang pada waktu itu diselimuti kegelapan jahiliyah menjadi terang benderang oleh cahaya Islam. Rasulullah saw bersabda,
“Sesungguhnya Ibrahim telah menjadian Kota Makkah sebagai tempat suci dan berdoa untuk kebaikan penduduknya. Dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai Kota Suci sebagaimana Ibrahim menjadikan Makkah sebagai tempat suci. Dan sesungguhnya aku berdoa untuk kebaikan sha’nya dan mudnya sebagaimana yang didoakan Ibrahim untuk kebaikan penduduk Makkah.” (HR. Muslim)
2- Jaminan Syafaat Bagi Orang yang Menanggung Kesusahan di Madinah
Sebuah kehormatan bagi penduduk Madinah karena mereka akan mendapatkan syafaat atau persaksian dari Nabi saw. Hal ini berlaku bagi mereka yang mau menanggung kesusahan dan kekurangan untuk tetap tinggal di Madinah. Hal ini tidak lain karena kemulian kota Madinah yang terkenal dengan Madinatur Rasul (Madinah tempat tinggal Rasulullah). Dalam suatu kesempatan Rasulullah saw bersabda,
“Kota Madinah ini lebih baik bagi mereka sekiranya mereka mengetahui. Tidaklah seseorang meninggalkan Madinah melainkan Allah akan mengganti dengan seseorang yang lebih baik lagi, dan tidaklah seseorang tetap bersabar atas kesulitan (kelaparan) dan kesusahan Madinah melainkan aku akan menjadi penolong dan saksinya pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim) Baca entri selengkapnya »
Desember 7, 2009
· Disimpan dalam Fikih, Opini · Tagged Agus Hidayatulloh, Fiqih, Pengajaran Fikih
Oleh Agus Hidayatulloh*
Beberapa waktu yang lalu, saat mengajar di sebuah SMA, saya bertanya kepada siswa-siswi bagaimana lafal niat mandi besar. Luar biasa, dari tiga kelas, atau sekitar 100 orang, ternyata cukup banyak yang masih belum bisa melafalkan! Ironis tentunya, karena niat mandi besar merupakan salah satu prasyarat penting menjaga kesucian diri. Ya, suci dari hadats besar, paling tidak demi kesahihan ibadah paling utama: shalat.
Saya sendiri tidak habis pikir bagaimana siswa-siswi kelas dua SMA itu bisa melepaskan diri dari hadats besar. Lebih ironis lagi, banyak pula pelajar perempuan sekolah itu yang tertunduk malu tidak hafal niat mandi besar. Apakah di antara pelajar laki-laki itu, kebanyakan belum ihtilam (mimpi basah)? Atau barangkali pelajar-pelajar perempuan itu belum juga haid?
Memang, jalan seseorang menuju akil balig tidak hanya dengan ihtilam atau haid. Namun, seperti nyaris mustahil juga jika begitu banyak pelajar–yang saya yakin sudah balig karena kiranya mereka sudah melewati umur 15 tahun–melewati masa kanak-kanaknya menuju balig tidak melalui ihtilam atau haid. Baca entri selengkapnya »
Desember 7, 2009
· Disimpan dalam Haji, Sejarah Umum · Tagged Haji, Sejarah, Sejarah Haji
Oleh: Abdul Mun’im, S.Pd.I
Haji secara bahasa berarti menuju ke suatu tempat. Namun secara syariat mengacu pada ziarah tahunan umat Islam ke Mekah dengan maksud tertentu untuk melakukan ritual keagamaan diwaktu tertentu pula sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW.
Haji pertama kali disyariatkan oleh Allah pada masa Nabi lbrahim a.s. dan ia adalah Nabi yang dipercaya oleh Allah untuk membangun Ka’bah bersama dengan anaknya Ismail di Mekah. Allah menggambarkan Ka’bah sebagai berikut: “Dan ingatlah ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat mereka yang ruku’ dan sujud.” (Al-Hajj :26)
Setelah membangun Ka’bah, Nabi Ibrahim datang ke Mekah untuk melakukan ibadah haji setiap tahun, dan setelah kematiannya, praktik ini dilanjutkan oleh anaknya. Namun, secara bertahap dengan berlalunya waktu, baik bentuk dan tujuan ritual haji berubah sebagai penyembahan berhala yang tersebar di seluruh Arabia, Ka’bah kehilangan kemurnian dan berhala ditempatkan di dalamnya. Dindingnya penuh dengan puisi dan lukisan, dan akhirnya lebih dari 360 berhala ditempatkan di sekitar Ka’bah. Baca entri selengkapnya »
November 30, 2009
· Disimpan dalam Akhlak, Keluarga Sakinah · Tagged keluarga, Menjaga diri
Oleh: H. Agus Hidayatulloh, Lc.*
Allah swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrîm [66]: 6)
Menurut Imam Thabari dalam kitab tafsirnya, Tafsir Thabari, juz XXIII, hlm. 491-492, maksud dari orang-orang yang beriman seperti disebutkan dalam ayat ini adalah orang-orang yang membenarkan keberadaan Allah swt. dan risalah yang dibawa rasul-Nya. Sementara itu, maksud dari “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” adalah perintah agar anggota keluarga saling mengingatkan dan mengajarkan kebaikan. Hal itu agar semua anggota keluarga dapat dijauhkan dari api neraka. Jadi, apabila ada seorang anggota keluarga berbuat kebajikan, hendaknya ia mengajak yang lainnya agar turut melaksanakannya juga. Dengan begitu, setiap orang akan menjaga yang lain agar tidak terjerumus ke dalam neraka. Tafsiran ini senada dengan tafsiran sahabat Ali bin Abu Thalib r.a. atas ayat yang sama. Baca entri selengkapnya »