Habib Baqir Minta Pemkot Hentikan Kemaksiatan

Adanya tempat hiburan di Kota Pekalongan menjadikan keresahan tersendiri di hati sebagian besar masyarakat Pekalongan. Salah satunya Ulama Kharismatik, Habib Abdullah Baqir Al Attas, yang merasa khawatir adanya tempat hiburan tersebut justru akan menjerumuskan warga Pekalongan ke dalam kemaksiatan.

Untuk itu, Habib Baqir memberikan peringatan kepada pemerintah agar lebih memperketat seleksi terhadap investor yang akan membangun tempat hiburan di Kota Pekalongan.

“Kami bisa memahami para investor yang ingin turut membantu membangun Kota Pekalongan, namun kami berharap agar pemerintah juga lebih ketat melakukan seleksi agar apa yang dibangun nantinya tidak justri merusak moral warga Kota Pekalongan,” ucap Habib Baqir dalam tausiyahnya di Masjid Roudhoh. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Peran Wanita dalam Kebangkitan

Oleh: Ust. H. Yasir Maqosid, Lc

(Pengasuh Pondok Pesantren Syafi’i AkromKota Pekalongan)

Sebentar lagi para wanita di negeri ini akan merayakan peringatan Hari Kartini yang dianggap sebagai tonggak emansipasi wanita dan peranan wanita di dunia modern ini. Bukan hanya ibu-ibu yang mulai sibuk merancang dan mempersiapkan acara, tetapi anak-anak TK dan SD juga dipersiapkan untuk didandani ala Kartini. Sekolah-sekolah bahkan mengadakan pawai untuk memperingati kebangkitan kaum hawa di negeri Indonesia tercinta. Mereka semua ingin menunjukkan bahwasanya para wanita juga dapat berperan dalam kemajuan negara ini.

Lantas bagaimana peranan wanita muslimah untuk memajukan kaumnya, bangsanya, dan agamanya? Dalam Al-Qur`an kita menjumpai banyak sekali kisah-kisah tentang perempuan yang berperan aktif bagi kaumnya, misalnya Ratu Balqis yang menjadi Pemimpin Negeri Saba`, istri Fir’aun yang menyelamatkan seorang bayi yang kelak menjadi pemimpin Bani Israil yaitu Nabi Musa. Sayyidah Maryam yang berjuang membesarkan anaknya dan mewakafkan diri untuk memakmurkan masjid, dll.

Pada zaman Rasulullah saw, kita juga menjumpai wanita-wanita yang berperan besar dalam kemajuan peradaban. Sayyidah Khadijah ra yang rela mengorbankan harta, diri, tenaga, pikiran, dan semua yang dimilikinya demi membantu suaminya berdakwah di jalan Allah. Sayyidah Sumayyah yang dengan teguh memegang agamanya meskipun harus membayar mahal dengan nyawanya sehingga ia menjadi perempuan pertama yang syahid di jalan Allah. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Khadijah binti Khuwailid

Sayyidah Khadijah dilahirkan di kota Makkah pada tahun 68 sebelum Hijriyah atau tahun 556 Masehi di sebuah keluarga yang mulia dan terhormat. Ayahnya bernama Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qusayyi bin Kilab. Sedangkan ibunya bernama Fathimah binti Zaidah bin Al-Asham bin Hadam. Beliau tumbuh dalam suasana yang dipenuhi dengan perilaku terpuji. Ia seorang yang cantik, kaya, mulia dan menjaga kehormatannya. Sehingga masyarakat di zaman Jahiliyah menjulukinya sebagai At-Thahirah (wanita yang suci).

Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, Sayyidah Khadijah pernah menikah dengan Abu Halah bin An Nabasyi  dan dikaruniai seorang anak bernama Halah. Setelah suaminya meninggal dunia, seluruh pemuka Quraisy berharap bisa bersanding dengannya. Tetapi semuanya ditolak dengan sopan oleh Sayyidah Khadijah karena ia ingin lebih berkonsentrasi untuk mengasuh anaknya dan mengurus usaha dagangnya. Itulah hikmah di balik kehendak Allah yang ingin menikahkannya dengan seorang manusia terbaik di muka bumi. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Abu Hurairah

Namanya adalah Abdurrahman bin Shakhr bin Tsalabah bin Salim bin Fahmi bin Ghanan bin Daws Al-Yaman. Beliau lahir tahun 21 sebelum hijrahnya Nabi saw ke Madinah bersamaan dengan tahun 602 Masehi. Dia lebih dikenal dengan nama Abu Hurairah karena memiliki seekor kucing kecil yang selalu diajaknya bermain-main pada siang hari atau saat menggembalakan kambing-kambing milik keluarga dan kerabatnya. Diriwayatkan bahwa Nabi saw pernah memanggilnya dengan sebutan, “Wahai, Abu Hir”.

Abu Hurairah masuk Islam melalui pemimpin kaumnya yaitu Thufail bin Amr, seorang pemimpin Bani Daus. Thufail kembali ke kampungnya setelah bertemu dengan Nabi Muhammad saw dan menjadi muslim. Ia lalu menyeru kepada kaumnya untuk masuk Islam. Akan tetapi sangat sedikit kaumnya yang masuk Islam, dan di antara yang sedikit itu adalah Abu Hurairah.

Setelah masuk Islam, Abu Hurairah sangat berkeinginan agar ibunya juga masuk Islam. Abu Hurairah lalu datang menemui Rasulullah seraya mengatakan, “Wahai Rasulullah, ibu saya menolak masuk Islam dan setiap kali saya mengajak masuk Islam, setiap itu pula saya mendengar caci makinya. Doakanlah ibu saya agar mendapat hidayah Allah.” Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Khalid bin Al-Walid

Khalid bin Al-Walid lahir pada tahun 584 M. Dia adalah seorang panglima perang pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang termahsyur dan ditakuti di medan perang serta dijuluki sebagai Saifullah Al-Maslul (pedang Allah yang terhunus).  Sebelum masuk Islam Nama Khalid bin Walid dikenal sebagai panglima kaum kafir Quraisy yang tak terkalahkan. Ia gagah dan perkasa di medan perang dan ahli dalam menyusun strategi.

Pada waktu Perang Uhud melawan tentara Muslimin pimpinan Rasulullah SAW, banyak yang Syahid terbunuh di tangan Khalid bin Walid. Dengan dengan suara lantang di atas perbukitan Khalid bin Walid berkata, ”Wahai Muhammad, kami sudah menang, kamu telah kalah dalam peperangan ini….lihatlah pamanmu Hamzah yang tewas tercabik cabik tubuhnya dan lihatlah pasukanmu yang telah porak poranda.”

Rasulullah saw menjawab, “Tidak, aku yang menang dan engkau yang kalah Khalid. Mereka sebenarnya mereka tidak mati wahai Khalid. Mereka hidup di sisi Allah swt penuh dengan kemuliaan dan kenikmatan. Mereka telah berhasil pindah alam dari dunia menuju akhirat menuju surga Allah, tetapi matinya tentaramu, matinya sebagai kafir dan dimasukkan ke Neraka Jahannam”. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Hamzah bin Abdul Muthalib

Hamzah bin Abdul Muthalib adalah paman Rasulullah saw sekaligus saudara sepersusuan dengan Rasulullah saw. Dia dilahirkan 55 tahun sebelum hijrah/ tahun 567 M. Hamzah memiliki julukan  Asadullah (“Singa Allah”) karena kepahlawanannya dalam membela agama Islam.

 

Tentang kisah keislamannya diceritakan bahwa pada suatu hari Hamzah bin Abdul Muthalib keluar dari rumahnya sambil membawa busur dan anak panah untuk berburu binatang di padang pasir. Siang itu hampir setengah harian ia habiskan waktunya di padang pasir yang luas dan tandus itu, akan tetapi ia tidak mendapatkan buruannya. Akhirnya ia beranjak pulang dan mampir di Ka’bah untuk melakukan thawaf sebelum kembali ke rumah.

Sesampainya di depan Ka’bah seorang budak perempuan milik Abdullah bin Jud’an At-Taimi menghampirinya seraya berkata,”Hai Abu Umarah, andai saja tadi pagi kamu melihat apa yang dialami oleh keponakanmu, Muhammad bin Abdullah, niscaya kamu tidak akan membiarkannya. Ketahuilah, bahwa Abu Jahal bin Hisyam telah memaki dan menyakiti keponakanmu itu, hingga akhirnya ia mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya.” kemudian diceritakannya peristiwa itu secara rinci. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Salman Al-Farisi

Nama lengkapnya Mabah bin Budzkhasyan bin Mousilan bin Bahbudzan bin Fairuz bin Sahrk Al-Isfahani. Ia lebih dikenal dengan nama Salman Al-Farisi. Nama panggilannya adalah Abu Abdillah dan digelari dengan Salman Al-Khair.

Sebelum Islam datang, Salman memeluk agama Nasrani, karena ia terpikat dengan model sembahyang mereka. Suatu ketika, atas saran seorang pendeta yang ditemuinya di Mosul, Salman berusaha untuk mencari Rasul yang berhijrah ke Madinah. Sang pendeta mengabarkan bahwa seorang Nabi akan diutus pada zaman itu. Ia berpesan agar Salman mengikuti Nabi tersebut dan Nabi itu akan hijrah ke sebuah daerah yang banyak ditumbuhi pohon kurma dan daerahnya diapit dua bidang tanah yang berbatu hitam.

Tentang pencarian Salman, ia bercerita: Kebetulan pada suatu hari lewatlah suatu rombongan berkendaraan, lalu kutanyakan dari mana mereka datang. Tahulah aku bahwa mereka dari jazirah Arab. Aku pun berkata kepada mereka, ‘Maukah kalian membawaku ke negeri kalian dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?’ Mereka pun menyetujuinya. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib dilahirkan tanggal 13 Rajab tahun ke 23 sebelum Hijriah/ tahun 599 M. Ayahnya bernama Abu Thalib bin Abdul Muthallib bin Hasyim, sedangkan ibunya bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim.

Ali kemudian dijadikan anak angkat Nabi SAW karena pernikahan beliau dengan Siti Khadijah tidak dikaruniai anak laki-laki sekaligus sebagai wujud terimakasih Nabi SAW kepada pamannya Abu Thalib yang juga pernah mengasuhnya waktu kecil. Konsistensi dan totalitas Ali dalam mendukung dakwah nabi terlihat dari sikapnya sebagai orang yang pertama kali mempercayai wahyu-wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi SAW. Saat itu usia Ali baru sekitar 10 tahun. Sikap seperti ini sungguh sulit pada masa itu mengingat sudut pandang, pemikiran, dan pengetahuan suku Quraisy yang masih dalam masa kegelapan (jahiliyah). Sikap yang diambil Ali juga bukan tanpa resiko. Cercaan, hinaan bahkan ancaman nyawa selalu mengintai.

Ada sebuah kisah pengorbanan totalitas yang pernah dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib r.a. Ketika Rasul Allah s.a.w. mendapatkan perintah untuk hijrah ke Madinah. Di satu malam yang gelap-gulita, ketika komplotan kafir Quraiys mengepung kediaman Rasul Allah s.a.w. dengan tujuan hendak membunuh beliau, manakala beliau meninggalkan rumah. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Utsman bin Affan

Utsman bin Affan dilahirkan 47 tahun sebelum hijrah (574 Masehi) dari seorang ayah bernama Abul-Ash bin Umayyah bin Abdus Syams bin Abdu Manaf bin Qusyayyi bin Kilab. Beliau masuk Islam karena ajakan Abu Bakar Al-Shiddiq. Sebagai sesama pedagang keduanya memang berteman dekat, kedekatan tersebut yang membuat Utsman akhirnya tertarik untuk mengikuti ajaran Rosulullah saw, sehingga dia juga termasuk golongan assabiqunal awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam).

Sebagai seorang kaya raya dan ahli ekonomi yang handal, kedermawanan Utsman juga tidak diragukan lagi. Sejarah mencatat bagaimana kedermawanan Ustman sangat membantu kehidupan masyarakat muslim pada masa itu. Dalam suatu kisah disebutkan ketika kaum muslimin hendak menghadapi perang Tabuk. Saat itu Rosulullah membutuhkan berbagai perlengkapan, logistik dan orang-orang untuk menjadi prajurit. Banyak orang yang menginginkan untuk menjadi syuhada dalam perang tersebut tetapi ditolak oleh Rosulullah karena memang kurangnya kendaraan dan logistik yang disebabkan masa paceklik yang sedang melanda jazirah Arab. Maka orang-orang tadi kembali pulang ke tempat masing-masing dengan mata yang berlinang.  Pada saat itulah Rasulullah Saw naik ke atas mimbar. Beliau memuji Allah Swt, kemudian menganjurkan umat Islam untuk mengerahkan segala kemampuan mereka dan menjanjikan mereka dengan balasan yang besar.

Mengetahui adanya kesulitan tersebut, dengan segera Utsman berdiri dan berkata kepada Rosulullah Saw: “Aku akan memberikan 100 unta lengkap dengan bekalnya, wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah Saw turun satu anak tangga dari mimbarnya dan Beliau terus menganjurkan umat Islam untuk mengerahkan apa yang mereka punya. Maka untuk kedua kalinya Utsman berdiri dan berkata: “Aku akan memberikan 100 unta lagi lengkap dengan bekalnya, wahai Rasulullah!” Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Umar bin Al-Khathab

Umar bin Al-Khatab berasal dari Bani Adi, salah satu bagian suku Quraisy. Nama lengkapnya Umar bin Al-Khatab Bin Nufail bin Abdul Uzza. Ayahnya bernama Khaththab bin Nufail Al Shimh Al-Quraisyi dan ibunya Hantamah binti Hasyim. Beliau lahir di Makkah tahun 581 Masehi.

Sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai salah satu tokoh Quraisy yang menentang ajaran Islam. Ia bahkan sering melakukan penyiksaan terhadap pemeluk-pemeluk Islam. Umar juga pernah memiliki rencana akan membunuh Nabi Muhammad saw.

Suatu hari, Umar keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Nabi saw. Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Nu`aim bin Abdullah Al-’Adawi,. Lelaki itu berkata kepada Umar, “Mau kemana wahai Umar?” Umar menjawab, “Aku ingin membunuh Muhammad.” Lelaki itu berkata, “Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, kalau kamu membunuh Muhammad?” Maka Umar menjawab, “Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu.” Tetapi lelaki tadi menimpali, “Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, wahai Umar? Sesungguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini.” Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Abu Bakar Ash-Shiddiq

Nama lengkapanya Abdullah bin Utsman bin ‘Amir bin Ka’ab at-Taimy al-Qursy. Nama panggilanya Abu Bakar. Dulunya bernama Abdul Ka’bah, kemudian Rasulullah mengantinya dengan nama Abdullah. Dia lahir dua tahun beberapa bulan setelah kelahiran Rasulullah Saw di kota Mekkah. Atau pada tahun 51 sebelum Hijriah (751 M). Dia digelari As-Shiddiq; orang percaya. Ketika terjadi peristiwa Isro’ dan Mi’roj, beliaulah termasuk orang pertama yang percaya dengan peristiwa itu. Maka beliau digelari as-Shiddiq.

Pada waktu hijrah, beliau menjadi teman Rasulullah dalam perjalanan hijrah itu, begitu juga ketika Rasulullah berada di gua Hira. Di antara orang-orang yang memeluk Islam atas jasanya adalah; az-Zubair bin al-Awwa, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Saad bin Abu Waqos, Tholhah bin Ubaidillah, Abu ‘Ubaidah bin Jarrah. Mereka termasuk 10 orang-orang yang diberitakan masuk surga. Termasuk beliau juga.

Beliau telah memerdekakan 7 orang; Bilal, ‘Amir bin Fahiroh, Zanirah, Nahdiyah dan anak perempuannya, Jariyah bani Muammal dan Ummu ‘Abis. Mengumpulkan mushaf yang tersebar di pelbagai pelosok. Beliau juga orang yang sangat tegas memerangi orang-orang murtad (keluar dari Islam) dan engan membayar zakat. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Memperingati Khaul Pendiri Pondok Pesantren Syafi’i Akrom

Suara merdu lantunan shalawat yang dibawakan oleh Santri Pondok Pesantren Syafi’i Akrom mengiringi syahdunya peringatan Khaul Para Pendiri Pondok Pesantren Syafi’i Akrom yang dilaksanakan pada tanggal 5 Januari 2012.

Para pendiri yaitu K.H. Syafi’i Abdul Madjid, K.H. Akrom Khasani, dan K.H. Muhammad Ilyas Qolyubi adalah tokoh-tokoh besar pada masanya dan ulama yang sangat berpengaruh di Kota Pekalongan. K.H. Syafi’i adalah ketua Koperasi KPB yang dengan gigihnya mewakafkan tanah untuk Pondok Pesantren Syafi’i Akrom seluas 3,6 Hektar.

Adapun K.H. Akrom Khasani adalah muballigh yang sangat terkenal di masanya, dan beliau pernah menjabat sebagai Kepala Depag Karisidenan Pekalongan.

Sedangkan K.H. Ilyas Qolyubi merupakan menteri agama pada zaman Presiden Soekarno dan pernah menjawab sebagai Duta Besar Indonesia untuk Saudi Arabia.

Acara Khaul diawali dengan pembacaan Simtudduror yang dilanjutkan dengan Khataman Al-Qur’an. Setelah itu dilanjutkan Tahlil yang dipimpin oleh Habib Abdullah Baqir Alatas selaku Penasehat Pondok Pesantren Syafi’i Akrom,

Selanjutnya sambutan disampaikan oleh Pengasuh, K.H. Yasir Maqosid, Lc yang menceritakan keberadaannya di pesantren yang pernah vakum ini. Sedangkan acara diakhiri dengan Mauidzah Hasanah yang disampaikan oleh K.H. Abdul Ghoni Al-Hafidz.

Semoga dengan peringatan Khaul ini menambah semangat semua elemen yang dipondok, dari mulai santri, pengasuh, pengurus yayasan, dan masyarakat sekitar untuk bersama-sama memajukan pondok ini agar menjadi pondok yang barokah dan manfaat. Amin

Komentar bertahan »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.