PROGRAM pengelolaan sapi telah dilaksanakan sejak tahun 2007 hingga sekarang. Dalam kurun waktu tersebut selalu berganti-ganti pengelola. Sebelumnya program ini dilaksanakan oleh Pengurus Pondok dengan Ustad Azhari sebagai pihak pengelola.
Akan tetapi mulai bulan Februari 2010, program ini dikelola oleh Yasir Maqosid Lc. Dengan pengelola yang baru ini, diharapkan lebih meningkatkan kuantitas dan kualitas sapi perah, meningkatkan income untuk pondok, dan bisa memenuhi setoran ke kas daerah.
Ternyata harapan tersebut mulai menjadi kenyataan. Hal ini bisa dilihat dari beberapa barometer berikut, antara lain populasi sapi sebelum pengelola baru berjumlah 9 ekor, yaitu 6 ekor sapi dewasa dan 3 ekor pedet. Adapun sekarang populasinya bertambah menjadi 12 ekor, yaitu 7 ekor sapi dewasa dan 5 ekor pedet. Jika dilihat dari segi kualitas juga cendrung mengalami peningkatan.
“Sebelumnya, dari 6 ekor sapi dewasa, semuanya merupakan sapi yang sudah tua (berumur rata-rata 6 tahun ke atas) dan produksi susunya sudah mulai berkurang. Sedangkan sekarang, dari 7 ekor sapi betina, hanya 2 yang sudah tua, sementara 5 sapi lainnya masih muda, baru laktasi pertama,” ungkap Yasir, kemarin.
Dia menjelaskan, jika sebelumnya tidak ada setoran ke kas daerah, karena pendapatan dan pengeluaran tidak seimbang. Namun sekarang ini dari hasil penjualan sapi dapat untuk menyetor ke kas daerah Rp 200.000 per bulan.
“Bahkan mulai Mei 2011 ini, setoran ke kas daerah ditingkatkan menjadi Rp 400.000 per bulan. Insya Allah kami optimis bisa melampaui target tersebut,” terangnya.
Keberadaan sapi perah yang dikelola tersebut, juga dirasakan sangat bermanfaat bagi pondok pesantren. Salah satunya santri pondok pesantren Syafi’i Akrom yang kini memiliki ketrampilan dalam berwirausaha yaitu dengan berjualan susu sapi murni setiap pagi dan sore.
Biaya operasional pondok juga bisa terpenuhi dari hasil susu sapi yang dijual para santri. Terlebih tingkat permintaan akan susu setiap harinya stabil dan tingkat lakunya pun tinggi. Artinya hampir tidak ada susu yang tersisa.
Selain itu, ada beberapa lembaga pendidikan setingkat TK yang melakukan wisata edukatif ke Pondok Pesantren Syafi’i Akrom dalam rangka belajar budidaya sapi dari mulai memberi makan sapi sampai memasak susu sapi. Selain itu, banyak manfaat lainnya yang dapat dirasakan secara langsung maupun tidak langsung.
Meski terdapat banyak peluang yang positif, namun dalam mengelola sapi tersebut masih menemui beberapa kendala antara lain, ada 2 ekor sapi yang sudah bunting tua, sehingga produksi keseluruhan berkurang. Ada pula beberapa sapi yang produksinya di bawah 10 liter per hari.
“Dengan keadaan yang demikian, akan mengurangi pemasukan, meskipun biaya perawatannya sama,” ujarnya. Selain itu, kekurangan modal untuk menambah keberadaan sapi perah, padahal saat ini kekurangan susu dan butuh sapi perah lagi untuk menambal kekurangan ini.
Pengelolaan sapi dan susu sapi tersebut memiliki beberapa potensi yang bisa dikembangkan. Karena terbukti telah memberi manfaat secara sosial maupun finansial, maka diharapkan ada program-program berkelanjutan yang dapat dilaksanakan.
Mengingat keberadaan lahan kosong yang masih cukup luas yaitu sekitar 2 hektar, maka potensi yang dapat dikembangkan pengolah limbah sapi perah menjadi pupuk organik, penanaman lahan kosong dengan tanaman yang produktif dan bernilai ekonomis, budidaya ikan air tawarm, membuat Kawasan Wisata Edukasi Mix Farming dan menjadikan Pondok Pesantren sebagai percontohan bagi usaha agrobisnis. (*) Sumber: Radar Pekalongan
Melihat Program Budidaya Sapi dan Susu Perah di Ponpes Syafi’i Akrom
Juni 3, 2011 · Disimpan dalam Kabar Pesantren