Abu Hurairah

Namanya adalah Abdurrahman bin Shakhr bin Tsalabah bin Salim bin Fahmi bin Ghanan bin Daws Al-Yaman. Beliau lahir tahun 21 sebelum hijrahnya Nabi saw ke Madinah bersamaan dengan tahun 602 Masehi. Dia lebih dikenal dengan nama Abu Hurairah karena memiliki seekor kucing kecil yang selalu diajaknya bermain-main pada siang hari atau saat menggembalakan kambing-kambing milik keluarga dan kerabatnya. Diriwayatkan bahwa Nabi saw pernah memanggilnya dengan sebutan, “Wahai, Abu Hir”.

Abu Hurairah masuk Islam melalui pemimpin kaumnya yaitu Thufail bin Amr, seorang pemimpin Bani Daus. Thufail kembali ke kampungnya setelah bertemu dengan Nabi Muhammad saw dan menjadi muslim. Ia lalu menyeru kepada kaumnya untuk masuk Islam. Akan tetapi sangat sedikit kaumnya yang masuk Islam, dan di antara yang sedikit itu adalah Abu Hurairah.

Setelah masuk Islam, Abu Hurairah sangat berkeinginan agar ibunya juga masuk Islam. Abu Hurairah lalu datang menemui Rasulullah seraya mengatakan, “Wahai Rasulullah, ibu saya menolak masuk Islam dan setiap kali saya mengajak masuk Islam, setiap itu pula saya mendengar caci makinya. Doakanlah ibu saya agar mendapat hidayah Allah.”

Rasulullah pun kemudian berdoa, “Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu Abu Hurairah.”

Abu Hurairah gembira mendengar doa Rasulullah saw. Lalu beliau kembali ke rumahnya dan datang menemui ibunya. Ibunya memanggil, “Wahai Abu Hurairah !” Abu Hurairah mengira rentetan caci maki akan didengarnya. Dia menjawab “Ya, Bu..” Ternyata ibunya berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Abu Hurairah tersenyum dan sangat gembira. Lalu beliau kembali menemui Rasulullah dan mengatakan, “Alangkah bahagianya aku wahai Rasulullah! Doa engkau dikabulkan”. Rasulullah kemudian mengucapkan hamdalah dan pujian atas terkabulnya doa. Abu Hurairah lantas mengatakan, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar saya dan ibu saya mencintai orang-orang mukmin dan agar orang-orang mukmin mencintai saya dan ibu saya” Maka Rasulullah pun berdoa,

Ya Allah, semoga kedua hambaMu ini dicintai dan mencintai orang mukmin”

Abu Hurairah mengisahkan, “Setelah itu tidak ada seorang mukmin pun yang mendengar atau melihatku, melainkan ia kemudian mencintaiku.”

Abu Hurairah merupakan sahabat Nabi yang senantiasa mendampingi beliau dimanapun beliau berada selama empat tahun. Dalam waktu yang sangat singkat tersebut, Abu Hurairah banyak menyerap Ilmu dan menghafal hadits-hadits dari Rasulullah saw.

Abu Hurairah mengisahkan, “Orang-orang banyak yang heran, bagaimana aku dapat meriwayatkan hadits begitu banyak. Sebenarnya ketika saudara-saudaraku dari kaum Muhajirin banyak yang berdagang dan saudara-saudara dari kaum Anshar sibuk berladang, aku selalu di samping Rasulullah saw.

Aku termasuk golongan Ashhabus Suffah dan aku tidak begitu menghiraukan pencarian nafkah karena aku selalu merasa puas dengan sedikit makanan yang diberikan Rasulullah saw kepadaku.

Aku pernah memberitahukan kepada Rasulullah tentang hafalanku yang lemah, lalu beliau bersabda, ‘Hamparkan kain selimutmu!’

Aku pun melakukan perintahnya, beliau lalu membuat tanda-tanda di kain selimut itu, kemudian bersabda, ‘Sekarang balutkanlah kain selimut ini di sekeliling dadamu.’ Aku pun membalut dadaku dengan kain itu. Sejak saat itu aku tidak pernah lupa lagi dengan segala sesuatu yang ingin aku hafalkan.”

Abu Hurairah meriwayatkan hadits Rasulullah sebanyak 5374 hadits. Dari jumlah tersebut yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim secara bersama sebanyak 326 hadits. Sedangkan yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tanpa Imam Muslim sebanyak 93 hadits dan diriwayatkan oleh Imam Muslim tanpa Imam Bukhari 98 hadits.

Selain meriwayatkan dari Rasulullah saw, beliau juga meriwayatkan dari Abu Bakar, Umar bin Khathab, Ubay bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, Aisyah, Bushrah Al-Ghifari, dan Ka’ab Al-Ahbar Radhiyallahu ‘anhum. Ada sekitar 800 ahli ilmu dari kalangan sahabat maupun tabi’in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, dan beliau adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan beribu-ribu hadits. Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah mengatakan,”Abu Hurairah ra adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan hadits pada zamannya (masa sahabat).”

Abu Hurairah meninggal pada tahun 57 Hijriyah/678 M. Semoga jasanya yang besar dalam meriwayatkan hadits-hadits Nabi senantiasa dikenang oleh kaum Muslimin dan untuk kepentingan Islam.

Disarikan dari beberapa sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: