Habib Baqir Minta Pemkot Hentikan Kemaksiatan

Adanya tempat hiburan di Kota Pekalongan menjadikan keresahan tersendiri di hati sebagian besar masyarakat Pekalongan. Salah satunya Ulama Kharismatik, Habib Abdullah Baqir Al Attas, yang merasa khawatir adanya tempat hiburan tersebut justru akan menjerumuskan warga Pekalongan ke dalam kemaksiatan.

Untuk itu, Habib Baqir memberikan peringatan kepada pemerintah agar lebih memperketat seleksi terhadap investor yang akan membangun tempat hiburan di Kota Pekalongan.

“Kami bisa memahami para investor yang ingin turut membantu membangun Kota Pekalongan, namun kami berharap agar pemerintah juga lebih ketat melakukan seleksi agar apa yang dibangun nantinya tidak justri merusak moral warga Kota Pekalongan,” ucap Habib Baqir dalam tausiyahnya di Masjid Roudhoh.

Karena tempat-tempat hiburan seperti karaoke dan juga bioskop, minimal bisa dijadikan tempat membolos bagi anak-anak sekolah. “Bahkan ekstrimnya tempat tersebut akan dijadikan wadah untuk melakukan hal-hal yang negatif,” ujar Habib Baqir lagi.

Padahal, sambungnya, saat ini masyarakat Kota Pekalongan sedang dalam tahap mengurangi tempat hiburan yang samar-samar. “Namun sekarang justru pemerintah menambahi lagi tempat hiburan yang serupa,” sesalnya.

Mengenai janji pengawasan yang sering dilontarkan pihak Pemkot sendiri, Habib Baqir mengatakan bahwa dalam hal tersebut pemerintah dianggap masih sangat lemah. “Jangankan melakukan pengawasan terhadap tempat-tempat hiburan baru, pelaksanaan pengawasan untuk yang sudah ada saja masih sangat kurang,” ujar Habib Baqir lagi.

Habib Baqir juga memberikan contoh lain lemahnya pengawasan yang dilakukan pemerintah, yaitu terkait banyaknya restoran milik warga non muslim yang walaupun menunya adalah masakan Jawa, namun tidak menyertakan label halal dalam makanannya.

“Harusnya ada jaminan halal dalam restoran tersebut, karena yang punya adalah non muslim,” tuturnya lagi. Sedangkan kebanyakan pengunjungnya adalah berjilbab yang berarti mereka adalah muslim. “Jadi di sini pemerintah terkesan membiarkan warganya terkena dosa,” ucapnya.

Harusnya, tambah Habib Baqir, pemerintah dapat pro aktif melakukan penekanan terhadap restoran-restoran tersebut untuk menyertakan label halal dengan mengurusnya ke dinas terkait.

“Namun jika setelah ada label halal tapi banyak warga yang tetap memilih makanan tidak halal, itu berarti memang salah mereka sendiri. Namun dalam hal ini pemerintah sudah melakukan pengawasan dan pengarahan ke hal yang baik,” bebernya.

Habib Baqir kembali menegaskan pentingnya seleksi yang ketat terhadap investor, beliau mencontohkan bahwa proyek yang sebelumnya bertujuan benar saja bisa berbelok arah ketika tidak sukses.

“Contohnya Dupan di daerah timur, dimana awalnya direncanakan sebagai blok kios toko-toko usaha yang bertujuan membangun ekonomi Kota Pekalongan, namun karena gagal akhirnya sekarang dialihfungsikan menjadi tempat hiburan seperti karaoke, hal tersebut dilakukan pengusaha untuk menghindari kerugian,” urainya.

Satu contoh lagi, sambung Habib Baqir, komplek ruko yang ada di Wiradesa, karena tidak laku, sekarang beralih menjadi bar dan spa secara terang-terangan.

“Hal tersebut harusnya bisa dijadikan contoh dan pertimbangan bagi Pemerintah Kota Pekalongan untuk lebih memperketat seleksi terhadap investor yang ingin membangun sebuah proyek di Kota Pekalongan,” pesannya.

(Dikutip dari Radar Pekalongan, Sabtu 28 April 2012)

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: