Arsip untuk Humor Pesantren

Menebak usia mumi

mumi-mesirIni cerita sewaktu jaman orde baru. Kisahnya tentang sayembara menebak usia mumi di Giza, Mesir. Puluhan negara diundang oleh pemerintah Mesir, untuk mengirimkan tim ahli paleoantropologinya yang terbaik. Tapi, pemerintah Indonesia lain dari yang lain, namanya juga jaman orde baru yang waktu itu masih bergaya represif misal banyaknya penculikan para aktivis. Makanya pemerintah mengirimkan seorang aparat yang komandan intel.

Tim Perancis tampil pertama kali, membawa peralatan mutakhir, ukur sana ukur sini, catat ini dan itu, kemudian menyerah tidak sanggup. Pakar Amerika perlu waktu yang lama, tapi taksirannya keliru. Tim Jerman menyatakan usia mumi itu tiga ribu dua ratus tahun lebih sedikit, juga salah. Tim Jepang juga menyebut di seputar angka tersebut, juga salah.

Giliran peserta dari Indonesia maju, Pak Komandan ini bertanya pada panitia, bolehkah dia memeriksa mumi itu di ruangan tertutup. Baca entri selengkapnya »

Komentar (6) »

Mencari Pekerjaan Karena Teman Ketua Dewan

computer7Pada suatu hari di sebuah negara, seorang lelaki mengunjungi temannya yang dulu sama-sama mondok di pesantren dan sekarang telah terpilih menjadi seorang ketua dewan.
“Aku membutuhkan pertolonganmu untuk dapat pekerjaan, tetapi aku tidak lulus SMA”, kata lelaki itu.
“Apakah engkau anggota partai ?” kata ketua dewan itu.
“Ya tentu saja”
“Oke, engkau bisa jadi anggota dewan, gajimu 30 juta sebulan.”
“Jangan, berikan aku jabatan yang tidak sepenting itu.” kata lelaki itu.
“Baiklah kalau begitu, kau akan aku tunjuk menjadi direktur perusahaan negara, gajimu 20 juta sebulan.” kata ketua dewan itu lagi.
“Itu masih terlalu penting untukku, jangan sepenting itu.” kata lelaki itu lagi”
Baiklah, kau akan aku angkat sebagai kepala bagian dan statusmu pegawai negeri dengan gaji 15 juta sebulan.” kata ketua dewan itu sambil menghisap cerutu-nya.
“Wah, itu masih terlalu tinggi, mungkin engkau bisa mengangkatku menjadi seorang tukang ketik saja di kelurahan dengan gaji 500 ribu perbulan.” Kata lelaki itu penuh harap “Wah….. tidak bisa itu….!!!” kata ketua dewan itu dengan muka serius “Untuk menjadi seorang tukang ketik di kelurahan, minimal engkau harus Kuliah dan punya ijazah S1.”
“Apa…? jadi tukang ketik di kelurahan harus berpendidikan lebih tinggi daripada anggota dewan….!” (pemuda itu kaget)

Komentar bertahan »

Tidak Ikhlas Menolong

abunanawas-fTidak etis jika kita selalu menyebut-nyebut pertolongan yang kita berikan kepada orang lain. Hoja hampir saja terjatuh ke dalam sebuah kolam. Tapi seseorang yang tidak terlalu dikenalnya berada di dekat tempat itu dan kemudian menolongnya.

Setelah itu, setiap kali orang itu bertemu dengan Hoja, ia selalu mengingatkan kebaikan yang pernah dilakukannya terhadap Hoja.

Suatu kali, Hoja membawa laki-laki itu ke dekat kolam, kemudian Hoja menerjunkan diri ke dalam air. Dengan kepala menyembul di permukaan air, Hoja berteriak: “Kau lihat, sekarang aku sudah benar-benar basah, seperti yang seharusnya terjadi jika engkau dulu tidak menolongku! Sudah, pergi sana!”

Komentar bertahan »

Mendapat Hadiah Lebih Besar

harun-rasyidPada suatu siang Abu Nawas kebetulan sedang barada di istana ketika raja Harun Ar Rasyid sedang sibuk menerima rombongan tamu dari kerajaan sahabat. Saat itu hanya ada dua orang pelayan saja. Abu Nawas diminta untuk membantu para pelayan itu.

Ketika Abu Nawas sedang membawa mangkok gulai yang masih panas untuk hidangan makan siang, tiba-tiba kakinya terpeleset. Gulai yang dibawanya tumpah dan sebagian mengenai kaki sang raja.

Sebenarnya sang raja sangat marah atas kejadian tersebut. Tetapi karena banyak tamu ia tahan kemarahannya. “Ma’afkan tuan-tuan, atas kelakuan pelayan kami yang kurang ajar tadi”, kata raja.

Dari balik pintu tiba-tiba Abu Nawas membaca sepotong ayat Al-Qur’an, “Orang-orang yang bertaqwa, yaitu mereka yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya…”

“Ya, aku memang sedang menahan amarah”, sahut raja.

“Dan mema’afkan kesalahan orang…”, sambung Abu Nawas meneruskan ayat.

“Baik, aku ma’afkan kesalahanmu”, sahut raja.

“Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”, sahut Abu Nawas mengakhiri ayat.

“Hai pelayan, kemari! Ini terimalah uang lima ratus dirham sebagai hadiah”, kata raja kepada Abu Nawas. “Lain kali tolong kamu siram lagi kakiku dengan gulai, biar kamu bisa menerima hadiah lebih besar lagi dariku,” raja melanjutkan ucapannya.

Komentar (2) »

Adu Kesombongan

Tiga orang tua sedang berkumpul di sebuah rumah seorang kiai. Kebetulan ketiga orang ini termasuk yang sukses secara materi. Mereka berbincang-bincang dengan seru.

Orang tua pertama, berkata, “Alhamdulillah, Allah telah memberi-kanku rezeki yang berlimpah ruah. Hidupku sangat bahagia, punya 5 rumah mewah, kendaraan mewah 8 buah dan 15 perusahaan yang dikelola anak-anakku.”

Orang tua kedua berkata, “Saya juga sangat bersyukur, lima anak saya bergelar doktor. Mereka menjadi rebutan para pengusaha terkenal, gaji mereka di atas 30 juta. Saya sebagai orang tuanya hidup sangat bahagia.”

Orang tua ketiga berkata, “Alhamdulillah, saya ini punya istri empat dan 8 anak. Semua anak saya sudah mapan, 4 orang menjadi asisten menteri, 4 orang menjadi direktur di perusahaan asing. Mereka semuanya sangat baik, jadi saya bisa bermain ke mana saja dengan fasilitas anak-anak.”

Dan pak kiai pun ikut berkata, “Wah, Alhamdulillah semua yang saya dengar dari bapak-bapak sangat hebat. Kalau saya jujur saja, di dunia ini belum ada yang bisa dibanggakan. Ibadah saya masih bolong-bolong, amal sangat sedikit. Bagaimana saya bisa hidup enak seperti bapak-bapak ini?

Mudah-mudahan, saya bisa ikut menyombongkan diri kepada bapak-bapak di akhirat nanti. Soalnya saya baru bisa melihat sukses atau tidak hidup saya dan miskin atau kaya, baru nanti di akhirat kelak. Jadi saya tidak bisa sombong sekarang.”

Ketiga orang tua itu tersenyum kecut penuh malu. []

Komentar bertahan »

Si Bakhil dan Pot yang Beranak

Suatu hari Hoja meminjam sebuah ceret dari orang kaya dan mengem-balikannya jauh sebelum tanggal yang dijanjikan. Sudah tentu, Hoja membayarnya. “Terima kasih tuan, dan selamat!” kata Hoja kepada orang kaya itu.

“Kenapa Anda mengucapkan selamat kepadaku?” tanya orang kaya itu.

Hoja memindahkan pot kecil serupa ceret dari sakunya ke dalam ceret yang besar dan menyodorkannya pada orang kaya itu, “Ceret besar Anda telah melahirkan bayi pot yang indah ini?”

“Rupanya dia gila, tetapi apakah aku harus menolak pot kecil ini,” pikir orang kaya itu. “Oh! Lihat bagaimana bayi kecil ini mirip ibunya,” seru orang kaya sambil mengambil pot kecil itu dengan hati-hati dan menyimpannya di dalam rumahnya.

Dua hari kemudian Hoja datang lagi meminjam ceret besar itu. Waktu itu Hoja tidak harus menunggu lama, dia menerima ceret besar itu secepat pembayarannya kepada orang kaya itu.

Hari berikutnya Hoja tergesa-gesa masuk rumah orang kaya itu dengan muka cemberut dan berkata, “Tuan, sungguh berita jelek!”

“Apa ada famili Anda yang meninggal?” tanya orang kaya.

“Pot Anda mati, Tuan!” tambah Hoja.

“Apa? Tidak mungkin! Bagaimana pot dapat mati?” teriak orang kaya.

“Memang sungguh aneh, Tuan! Apabila pot itu bisa hamil dan melahirkan pot kecil, namun kenapa Anda tidak menerimanya bahwa dia bisa juga mati?,” tegas Hoja.

Komentar bertahan »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.